2012 in review

31 Desember 2012 by

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 2.800 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 5 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Inovasi Pembelajaran dengan Metode Strategi Pembelajaran Inkuiri melalui Media Internet Jejaring Sosial Facebook Ririn Noorhaisna Raffela

28 Januari 2012 by

 Ririn Noorhaisna Raffela

Abstrak

Pembelajaran inkuiri bertujuan untuk memberikan cara bagi mahasiswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada, keterlibatan mahasiswa dan keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar serta mengembangkan sikap percaya pada diri mahasiswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Strategi pembelajaran inkuiri dapat membantu agar perhatian mahasiswa dalam pembelajaran di kelas lebih menarik. Salah satu jejaring social yang saat ini banyak di gandrungi oleh masyarakat Indonesia termasuk mahasiswa adalah Facebook. Kehebatan Facebook adalah simpel dan elegan, didukung dengan banyak fitur dalam satu halaman. Spontanitas membuat orang enjoy dengan Facebook. Mereka bisa mengetahui secara langsung apa yang sedang dipikirkan atau yang dilakukan oleh teman-temannya sekaligus bisa langsung memberikan komentar. Semua berada pada satu halaman.

Facebook dapat di jadikan salah satu  alternatif untuk menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dalam perkuliahan. Sehingga terjadi interaksi dan negosiasi untuk penciptaan arti dan konstruksi makna dalam diri mahasiswa dan tenaga pengajar, sehingga dicapai pembelajaran yang bermakna.

 

Pendahuluan

Proses pembelajaran merupakan esensi dari penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi. Tuntutan masyarakat terhadap efisiensi, produktivitas, efektivitas mutu, dan kegunaan hasil dalam penyelenggaraan proses pembelajaran di perguruan tinggi merupakan hal yang menjadi keharusan. Namun dalam pelaksanaan perkuliahan di kelas ternyata dihadapkan pada masalah yang menghambat keberhasilan proses pembelajaran tersebut. Masalah yang terjadi dan sangat merisaukan dosen adalah rendahnya partisipasi mahasiswa dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas ( Saliman, 2010).

Mahasiswa biasanya dalam setiap perkuliahan selalu pasif cenderung hanya duduk, diam, dan sekedar mendengarkan tanpa memberikan respon yang relevan dengan materi kuliah. Tidak pernah berani mengemukakan pendapatnya dan tidak pernah berani bertanya. Perhatian mahasiswa dalam pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh menarik tidaknya proses perkuliahan tersebut baik dari segi materi kuliah maupun strategi pembelajarannya. Rasa percaya diri mahasiswa harus ditumbuhkan dan dikuatkan agar dapat bereksplorasi dalam memahami pengetahuan. Apabila proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan minat, karakteristik, dan kebutuhan, maka kepuasan belajar mahasiswa dapat tercapai.

Kondisi pasif mahasiswa menjadi permasalahan bagi dosen pengajar karena menyebabkan ketercapaian penguasaaan materi kuliah oleh mahasiswa sangat rendah. Hal ini sangat berbeda jika mahasiswa online pada jejaring social, mereka berani memberikan pendapat (komentar) terhadap status-status yang ditulis pada akun tersebut.

Salah satu jejaring social yang saat ini banyak di gandrungi oleh masyarakat Indonesia termasuk mahasiswa adalah Facebook. Kehebatan Facebook adalah simpel dan elegan, didukung dengan banyak fitur dalam satu halaman. Spontanitas membuat orang enjoy dengan Facebook. Mereka bisa mengetahui secara langsung apa yang sedang dipikirkan atau yang dilakukan oleh teman-temannya sekaligus bisa langsung memberikan komentar. Semua berada pada satu halaman.

Media ini dapat di jadikan salah satu  arternatif untuk menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dalam perkuliahan. Sehingga terjadi interaksi dan negosiasi untuk penciptaan arti dan konstruksi makna dalam diri mahasiswa dan tenaga pengajar, sehingga dicapai pembelajaran yang bermakna. Media ini sangat cocok dikombinasikan dengan metode pembelajaran inkuiri yang beriorientasi pada keterlibatan mahasiswa dan keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar serta mengembangkan sikap percaya pada diri mahasiswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

 

Strategi Pembelajaran Inkuiri

Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa/mahasiswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktifitas mahasiswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan inkuiri menempatkan mahasiswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan dosen secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan mahasiswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya dalam pendekatan inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar mahasiswa. Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara dosen dan mahasiswa, sehingga kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri mahasiswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

A.    Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

1.    Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa

2.    Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan

3.    Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

B.    Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

C.    Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

D.   Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

E.    Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

F.    Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

 

Dalam praktik pembelajaran, pada dasarnya pendekatan inkuiri adalah menggunakan pendekatan konstruktivistik, di mana setiap mahasiswa sebagai subyek belajar, dibebaskan untuk menciptakan makna dan pengertian baru berdasarkan interaksi antara apa yang telah dimiliki, diketahui, dipercayai, dengan fenomena, ide, atau informasi baru yang dipelajari. Dengan demikian, dalam proses belajar mahasiswa telah membawa pengertian dan pengetahuan awal yang harus ditambah, dimodifikasi, diperbaharui, direvisi, dan diubah oleh informasi baru yang diperoleh dalam proses belajar.

Proses belajar tidak dapat dipisahkan dari aktivitas dan interaksi, karena persepsi dan aktivitas berjalan seiring secara dialogis. Pengetahuan tidak dipisahkan dari aktivitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan, dan di mana makna diciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan didesiminasikan dan diterapkan. Dalam pebelajaran dengan pendekatan inkuiri ini mahasiswa akan dihadapkan pada suatu permasalahan yang harus diamati, dipelajari, dan dicermati, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman konsep mata kuliah dalam kegiatan pembelajaran. Secara logika apabila mahasiswa meningkat partisipasinya dalam kegiatan pembelajaran, maka secara otomatis akan meningkatkan pemahaman konsep materi pembelajaran, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar.

 

Facebook

            Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial dan situs web yang diluncurkan pada Februari 2004 yang dioperasikan dan dimiliki oleh Facebook, Inc. Pada Januari 2011, Facebook memiliki lebih dari 600 juta pengguna aktif. Pengguna dapat membuat profil pribadi, menambahkan pengguna lain sebagai teman dan bertukar pesan, termasuk pemberitahuan otomatis ketika mereka memperbarui profilnya. Selain itu, pengguna dapat bergabung dengan grup pengguna yang memiliki tujuan tertentu, diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah, perguruan tinggi, atau karakteristik lainnya. Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh administrasi universitas di AS dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain. Facebook memungkinkan setiap orang berusia minimal 13 tahun menjadi pengguna terdaftar di situs ini.

Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa ilmu komputer Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. Keanggotaan situs web ini awalnya terbatas untuk mahasiswa Harvard saja, kemudian diperluas ke perguruan lain di Boston, Ivy League, dan Universitas Stanford. Situs ini secara perlahan membuka diri kepada mahasiswa di universitas lain sebelum dibuka untuk siswa sekolah menengah atas, dan akhirnya untuk setiap orang yang berusia minimal 13 tahun.

Studi Compete.com bulan Januari 2009 menempatkan Facebook sebagai layanan jejaring sosial paling banyak digunakan menurut pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, diikuti oleh MySpace. Entertainment Weekly menempatkannya di daftar “terbaik” akhir dasawarsa dengan komentar, “Bagaimana cara kita menguntit bekas kekasih kita, mengingat ulang tahun rekan kerja kita, mengganggu teman kita, dan memainkan permainan Scrabulous sebelum Facebook diciptakan?” Quantcast memperkirakan Facebook memiliki 135,1 juta pengunjung bulanan di AS pada Oktober 2010. Menurut Social Media Today pada April 2010, diperkirakan bahwa 41,6% penduduk Amerika Serikat memiliki akun Facebook. Pengguna dapat membuat profil dilengkapi foto, daftar ketertarikan pribadi, informasi kontak, dan informasi pribadi lain. Pengguna dapat berkomunikasi dengan teman dan pengguna lain melalui pesan pribadi atau umum dan fitur obrolan. Mereka juga dapat membuat dan bergabung dengan grup ketertarikan dan “halaman kesukaan” (dulu disebut “halaman penggemar” hingga 19 April 2010), beberapa di antaranya diurus oleh banyak organisasi dengan maksud beriklan.

Mencegah keluhan tentang privasi, Facebook mengizinkan pengguna mengatur privasi mereka dan memilih siapa saja yang dapat melihat bagian-bagian tertentu dari profil mereka. Situs web ini gratis untuk pengguna dan mengambil keuntungan melalui iklan seperti iklan spanduk. Facebook membutuhkan nama pengguna dan foto profil (jika ada) agar dapat diakses oleh setiap orang. Pengguna dapat mengontrol siapa saja yang dapat melihat informasi yang mereka bagikan, juga menemukannya melalui pencarian dengan memanfaatkan pengaturan privasi.

Facebook sudah menjadi icon tersendiri dimasyarakat dunia, produk komunikasi seperti handphone, smartphone, blackberry termasuk operator seluler juga memanfaatkan facebook sebagai nilai tambah dalam iklan penjualan mereka, dengan gadget yang mereka tawarkan akan memberi kemudahan untuk selalu terhubung dengan teman dan jaringan di facebook, ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah begitu dekat dengan facebook, diluar dari itu semua facebook mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri tergantung dari sudut pandang yang melihatnya.

Kelebihan facebook :

1.    bisa ketemu dengan teman-teman lama tanpa bertemu muka

2.    media yang mempermudah kita untuk berkomunikasi

3.    media komunikasi massa yang murah dan gratis

4.    banyak orang yang bergabung termasuk yang gaptek sekalipun

5.    banyak fitur yang berguna dan menyenangkan

6.    jadi inspirasi bagi pemerintah jika mau punya data online penduduknya di mana penduduknya senang menggunakannya

7.    bisa main game-game asyik yang menghilangkan stress

8.    memaksa/membuat orang yang tidak kenal komputer & internet

Kekurangan facebook :

1.    mulai marak spam dari orang yang mau promosi produk

2.    banyak penipu dan penjahat online bergentayangan cari mangsa

3.    data diri pribadi kita bisa tersebar pada pihak yang tidak diinginkan

4.    kegiatan hidup personal kita diketahui pihak lain

5.    berbahaya bagi yang terlalu jujur, rajin curhat, kurang waspada, dll

6.    membuat ketagihan dan mengganggu kegiatan hidup nyata

7.    membuang uang jika punya uang terbatas dan internet mahal

 

Penerapan Metode Strategi Pembelajaran Inkuiri melalui Media Internet Jejaring Sosial Facebook

Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, menuntut perubahan pola mengajar dari yang hanya sekadar mengingat fakta yang biasa dilakukan melalui strategi pembelajaran dengan metode kuliah (lecture) atau dari metode latihan (drill) dalam pola tradisional, menjadi pengembangan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Pendekatan Inkuiri dalam pebelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan mahasiswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada, keterlibatan mahasiswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Ada tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas mahasiswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (mahasiswa sebagai subjek belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan mahasiswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.

Prinsip penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah berorientasi pada pengembangan intelektual, prinsip interaksi, prinsip bertanya, prinsip belajar untuk berpikir, dan prinsip keterbukaan. Dilihat dari prinsip penggunaan strategi inkuiri ini maka dapat di kembangkan media yang mendukung penerapan strategi pembelajaran inkuiri ini, salah satunya adalah internet.

Internet telah memberikan pengaruh yang besar terhadap system pendidikan. Media Internet dapat membantu aktivitas mahasiswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, dapat mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis. Secara luas internet menyediakan banyak fasilitas salah satunya adalah jejaring social Facebook. Banyak manfaat yang bisa diambil dari situsweb yang satu ini, yaitu untuk mempromosikan blog, agar mendapat perhatian dari teman-teman kita, buat tulisan yang menarik perhatian sehingga mengundang rasa penasaran untuk membacanya, apalagi kalau teman kita banyak, kemungkinan blog kita akan banyak pengunjungnya, anggap saja promosi gratis sekalian meng update status facebook, itu adalah sebagian dari keuntungan facebook.

Fasilitas yang di sediakan oleh Facebook sangatlah beragam, ini sangat membantu dalam pengembangan media penerapan strategi pembelajaran inkuiri. Mahasiswa salah satu dari pengguna Facebook terbanyak, dengan menggunakan media Facebook di harapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam setiap kegiatan pembelajaran terutama memahami konsep-konsep materi kuliah, sehingga dapat mengoptimalkan pemahaman konsep materi kuliah dan pada gilirannya hasil belajar yang dicapai mahasiswa maksimal.

 

Kesimpulan

1.    Tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas mahasiswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (mahasiswa sebagai subjek belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan mahasiswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.

2.    Prinsip penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah berorientasi pada pengembangan intelektual, prinsip interaksi, prinsip bertanya, prinsip belajar untuk berpikir, dan prinsip keterbukaan. Dilihat dari prinsip penggunaan strategi inkuiri ini maka dapat di kembangkan media yang mendukung penerapan strategi pembelajaran inkuiri ini, salah satunya adalah internet.

3.    Secara luas internet menyediakan banyak fasilitas salah satunya adalah jejaring social Facebook. Fasilitas yang di sediakan oleh Facebook sangatlah beragam, ini sangat membantu dalam pengembangan media penerapan strategi pembelajaran inkuiri.

 

Daftar Rujukan

Herdian. 2010. Model Pembelajaran Inkuiri. [online]. Tersedia : http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/model-pembelajaran-inkuiri, diakses 26 Agustus 2011

Mahmudin. 2009. Pendekatan inkuiri dalam pembelajaran. [online]. Tersedia : http://mahmuddin.wordpress.com/2009/11/10/pendekatan-inkuiri-dalam-pembelajaran, diakses 26 Agustus 2011

Menthaluss. 2009. Keuntungan dan Kerugian Facebook. [online]. Tersedia : http://menthaluss.blogspot.com/2009/09/keuntungan-dan-kerugian-facebook.html, diakses 26 Agustus 2011

Saliman. 2010. Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran. [online]. Tersedia : http://staff.uny.ac.id/system/files/penelitian/Saliman,%20Drs.%20M.Pd./PENDEKATAN%20INKUIRI.pdf, diakses 26 Agustus 2011.

Sidharta, Arief. 2010. Model Pembelajaran Asam Basa Berbasis Inkuiri Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains Siswa SMP. [online]. Tersedia: http://abstrak.digilib.upi.edu/ Direktori, diakses 26 Agustus 2011

Sumanto. 2011. Pendekatan Inkuiri dalam IPA. [online]. Tersedia: http://sumantomantos.wordpress.com/2011/01/02/pendekatan-inkuiri-dalam-ipa, diakses 26 Agustus 2011

 

Unnes Social Network. 2009. Menerapkan Metode Pembelajaran Pendekatan Inkuiri dan Lesson Study pada Mata Pelajaran IPA Bab Proses Fotosintesis. [online]. Tersedia: http://blog.unnes.ac.id/008tp2009/ menerapkan-metode-pembelajaran-pendekatan-inkuiri-dan-lesson-study-pada-mata-pelajaran-ipa-bab-proses-fotosintesis, diakses 27 Agustus 2011

 

KUNJUNGAN KERJA DAN PELATIHAN FASILITATOR DESA SIAGA

16 Agustus 2010 by

Pada hari ini tanggal 30 Juli 2010 Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah mendapat kunjungan dari Bapak Dr. Abidinsyah Siregar, DHSM selaku Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pada saat yang bersamaan sedang di Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah sedang berlangsung Pelatihan Fasilitator Desa Siaga yang pesertanya berasal dari para Kepala Puskesmas dan Bidan Koordinator se Provinsi Kalimantan Tengah.

KERANGKA ACUAN

PELATIHAN FASILITATOR DESA SIAGA

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2010

  1. I. PENDAHULUAN

Keberhasilan upaya kesehatan sangat ditentukan oleh sumber daya manusia kesehatan yang sangat profesional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghasilkan dan meningkatkan sumber daya manusia kesehatan yang profesional adalah melalui pelatihan.

Dengan telah ditetapkannya sasaran tersebut, maka Kementerian Kesehatan segera merumuskan Visi Kementerian Kesehatan yaitu : ”Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”, dengan Misi :

1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani.

2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.

3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan.

4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Yang akan dicapai melalui Strategi :

1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat swasta dan masyarakat madani  dalam  pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global.

2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu  dan  berkeadilan serta berbasis bukti; Kurikulum Pelatihan Fasilitator Desa Siaga dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif.

3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional.

4. Meningkatkan pengembangan dan pemberdayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu.

5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan  obat  dan  alat  kesehatan  serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan.

6. Meningktkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasil guna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab .

Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), bencana, kecelakaan, dll, dengan memanfaatkan potensi setempat secara gotong royong.

Kriteria desa siaga adalah apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (POSKESDES), minimal dengan 1 tenaga bidan dan 2 kader. Sejak dicanangkannya Desa Siaga Tahun 2006, sasaran pelatihan dalam rangka penyiapan Desa Siaga adalah Bidan Poskesdes yang berada di Desa Siaga, sedangkan tenaga lainyang berada di Puskesmas belum dilatih tentang Desa Siaga sehingga tidak ada tenaga kesehatan yang menjadi pendamping Bidan Poskesdes dalam melaksanakan tuganya sehari-hari. Oleh karena itu, untuk mendampingi bidan dalam Kurikulum Pelatihan Fasilitator Desa Siaga menjalankan tugasnya di Poskesdes, diperlukan fasilitator yang berasal dari Puskesmas.

Untuk dapat menjalankan tugas sebagai fasilitator, salah satu cara yang dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kepala puskesmas/tenaga yang ada di puskesmas melalui pelatihan bagi fasilitator.

  1. II. TUJUAN PELATIHAN

  1. A. Tujuan Umum

Peserta mampu menjadi fasilitator Bidan Poskesdes dalam pengembangan Desa Siaga.

  1. B. Tujuan Khusus

Peserta mampu :

1. Menjelaskan pelaksanaan pengembangan Desa Siaga.

2. Menjelaskan peran dan fungsi fasilitator Desa Siaga.

3. Menerapkan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat.

4. Mempraktekkan penanggulangan gawat darurat.

5. Mempraktekkan tanggap darurat.

6. Mempraktekkan pelayanan medik dasar.

7. Mensimulasikan cara melakukan pendampingan Bidan Poskesdes.

8. Mengaplikasikan pengembangan tim jejaring kerja Desa Siaga.

9. Menerapkan komunikasi, advokasi dan negosiasi.

10. Melakukan monitoring dan evalulasi.

  1. III. PESERTA
    1. 1. Kriteria :
  • Prioritas utama adalah Kepala Puskesmas sesuai dengan Permenkes No.971/Menkes/Per/XI/2009 tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan, atau
  • Bidan Koordinator yang menangani dalam pengembangan Desa Siaga dengan memiliki latar belakang pendidikan minimal tingkat D3 kesehatan dan telah bekerja di puskesmas minimal 2 tahun.
  1. 2. Jumlah :

Jumlah peserta yang dilatih dalam satu kelas sebanyak 30 orang.

  1. IV. PELATIH

Pelatih berasal dari :

1. Tim pelatih dari  propinsi dan kabupaten / kota yang memiliki sertifikat TOT pelatihan fasilitator Bidan Poskesdes.

2. Pakar yang mempunyai pengalaman mengajar/melatih sesuai materi yang diajarkan.

  1. V. STRUKTUR  PROGRAM

MATERI

MATERI DASAR

Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga
Peran dan Fungsi Tim Fasilitator Bidan Poskesdes Tingkat Puskesmas

MATERI INTI

Materi Pelatihan Bidan Poskesdes
a.  Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat melalui kemitraan
b.  Penanggulangan Kegawatdaruran Sehari-hari dan Bencana
c.  Tanggap Darurat Bencana
d.  Pelayanan Medis Dasar
Materi Pelatihan Fasilitator Bidan Poskesdes
a. Teknik Pendampingan dan Bimbingan Teknis Bidan Poskesdes (Coaching)
b. Pengembangan Tim Jejaring Kerja Desa Siaga
c. Komunikasi, Advokasi dan Negosiasi
d. Monitoring dan Evaluasi

MATERI PENUNJANG

Building Learning Commitment
Rencana Tindak Lanjut

1 JPL = 45 menit; T = Teori; P = Penugasan; PL = Praktik Lapangan

  1. VI. DIAGRAM ALUR PROSES PEMBELAJARAN
Pembukaan
Perkenalan & harapan

Building Learning Commitment

  1. VII. TEMPAT DAN WAKTU

A.  Tempat :

Pelatihan dilaksanakan di Bapelkes Palangka Raya Jl. Yos Sudarso No. 14 Palangka Raya, Telp. 0536-3239469.

  1. B. Waktu :

Pelatihan dilaksanakan dari tanggal 26 sd 31 Juli 2010 selama 60 Jam Pelajaran @ 45 menit.

  1. VIII. EVALUASI

Evaluasi yang digunakan selama proses pembelajaran terdiri dari evaluasi terhadap :

  1. Peserta, meliputi :
  • Pre test
  • Post test
  • Rencana Tindak Lanjut
  1. Fasilitator, meliputi :
  • Penguasaan materi
  • Ketepatan waktu
  • Sistematika Penyajian
  • Penggunaan metode dan alat bantu diklat

• Empati, gaya dan sikap kepada peserta

• Pencapaian TPU

• Kesempatan tanya jawab

• Kemampuan menyajikan

• Kerapihan pakaian

• Kerjasama antar tim pengajar

  1. Penyelenggaraan

• Pengalaman peserta dalam pelatihan ini

• Rata-rata penggunaan metode pembelajaran oleh pengajar

• Tingkat semangat peserta untuk mengikuti program pelatihan Kurikulum Pelatihan Fasilitator Desa Siaga 37

• Tingkat kepuasan peserta terhadap proses belajar mengajar

• Kenyamanan ruang kelas

• Penyediaan alat bantu pelatihan dalam kelas

• Penyediaan dan pelayanan bahan belajar (seperti pengadaan dan bahan diskusi)

  1. IX. SERTIFIKASI

Berdasarkan Kepmenkes No. 725 tahun 2003 tentang pedoman penyelenggaraan pelatihan di bidang kesehatan, bagi peserta yang telah mengikuti pelatihan selama 60 JPL akan memperoleh sertifikat dengan angka kredit 1.

  1. X. SUMBER BIAYA

Biaya pelatihan dibebankan pada anggaran DIPA  Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2010.

  1. XI. PENUTUP

Demikian kerangka acuan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

Panitia Penyelenggara

PHBS MENCEGAH BERBAGAI PENYAKIT

16 Agustus 2010 by
PHBS MENCEGAH BERBAGAI PENYAKIT

Sehat merupakan modal utama manusia untuk dapat melakukan perannya di bidang pembangunan ekonomi dan pendidikan. Hal ini cukup beralasan sebab orang yang sehat akan mempunyai tingkat produktifitas yang tinggi dan mereka akan lebih mampu untuk mengikuti program-program pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mewujudkan keadaan sehat di masyarakat memerlukan sumber daya yang memadai. Ini sejalan dengan anggapan bahwa sehat  merupakan suatu investasi, di mana kalau kita berhitung antara besarnya investasi yang dikeluarkan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dibandingkan dengan hasil yang akan dicapai, nantinya jauh lebih besar dalam bentuk keberhasilan di bidang ekonomi dan pendidikan. Itulah sebabnya sehat merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi salah satu faktor penentu indeks pembangunan manusia.

Pengertian sehat menurut WHO meliputi jasmani, mental, emosional, sosial dan spiritual tidak hanya terhindar dari penyakit maupun kecacatan; apalagi sekarang dikaitkan dengan produktifitas, sehingga menambah luas serta kompleksnya permasalahan yang harus diupayakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal di masyarakat. Menurut para pakar jumlah orang sehat sekitar 85%, sedangkan jumlah orang tidak sehat sekitar 15%. Kalau kita melihat prevalen penderita penyakit kecacingan di Indonesia adalah 1:10, prevalen anemia gizi masih 40%, ditambah lagi prevalen penyakit infeksi, maka dapat dilihat bahwa kecenderungan jumlah orang yang tidak sehat lebih dari 15% menurut kategori sehat di atas.

Perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya permasalahan kesehatan di Indonesia. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan program promosi kesehatan yang berkaitan dengan tatanan sehat yang dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat baik input, proses maupun output. Input dapat dilihat dari sisi tenaga, dana, sarana; sedang proses dapat dilihat melalui kader yang terlibat pengkajian, desa yang melakukan pengkajian, jumlah desa yang telah melakukan kegiatan PHBS mulai identifikasi, intervensi sampai evaluasi; dan output dari adanya hasil kegiatan dengan indikator yang jelas, relevan, valid dan reliabel. Program PHBS sendiri adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar dengan memberikan informasi dan edukasi terhadap individu, kelompok dan masyarakat; dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku tentang cara-cara hidup sehat untuk menjaga, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat; kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan advokasi, bina suasana dan gerakan pemberdayaan masyarakat.

Apa sebenarnya yang disebut dengan PHBS? Menurut Bapak Sunarto, SH, MM (Ka Kan Humas dan Informasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul), beliau menyampaikan pesan-pesan PHBS pasca musibah gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 antara lain :

Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sehabis buang air besar.

Mencuci bahan makanan yang akan dimakan atau dimasak.

Meminum air yang sudah direbus sampai mendidih.

Segera Memakan makanan yang sudah matang dan tidak disimpan terlalu lama.

Melihat tanggal kadaluarsa bagi makanan dan minuman kemasan kaleng/kotak.

Menggunakan jamban (WC) untuk buang air besar.

Membuang sampah pada tempatnya.

Menyiram halaman dua kali sehari untuk mengurangi debu.

Menggunakan masker (penutup) hidung waktu melakukan aktifitas pembongkaran bangunan.

Melakukan PSM (Pembersihan Sarang Nyamuk) dengan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur).

Menggunakan obat anti nyamuk.

Segera memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan terdekat apabila terluka/sakit.

Memberikan imunisasi campak bagi balita berusia 6 bulan dan 5 tahun.

Memberikan imunisasi Tetanus Toxoid pada penduduk usia lebih dari 15 tahun.

Memberikan ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan dan jangan berikan makanan selain ASI.

Memberikan MP ASI (Makanan Pendamping ASI) setelah bayi berusia 6 bulan dan ASI tetap diberikan sampai berusia 2 tahun.

Ibu hamil sampai nifas meminum tablet zat besi (tambah darah) minimal sehari sekali selama 90 hari.

Wanita usia subur dan remaja putri sebaiknya minum tablet zat besi sekali sehari.

Tidak merokok di dalam tenda, di depan bayi, balita dan ibu hamil.

Penderita TBC/PKTB dan penyakit kronis lainnya, jangan lupa meminum obat secara rutin dan teratur sesuai petunjuk.

Balita meminum obat cacing minimal 6 bulan sekali.

Khusus mengenai rumah sehat untuk masyarakat harus memenuhi syarat-syarat seperti yang disampaikan oleh Bapak Danny Eko B, SKM, MM, yaitu :

  • Bahan bangunan terdiri dari lantai ubin atau semen, dinding tembok, atap genting, dan tiang kayu atau bambu.
  • Ventilasi terbagi dua bagian meliputi ventilasi alamiah yang mana aliran udara di dalam ruangan terjadi melalui jendela, pintu, lubang angin; dan ventilasi buatan yang mana aliran udara dalam ruangan didapat dari kipas angin dan mesin penghisap udara (exhouser). Tujuan utamanya untuk menjaga keseimbangan oksigen dan carbondioksida di dalam rumah, selain itu juga untuk mecegah berkembangnya berbagai bibit penyakit akibat kelembaban udara yang tinggi.
  • Cahaya dibedakan meliputi cahaya alamiah yakni sinar matahari yang sangat penting untuk dapat membunuh kuman penyakit misalnya kuman TBC, di mana waktu yang paling baik untuk kesehatan pada pagi hari (pukul 06.00 s/d 08.00) yang bisa melalui pintu, jendela, atau genteng kaca; dan cahaya buatan yang bisa bersumber dari lampu listrik dan lampu minyak tanah.
  • Luas bangunan rumah yang optimum 2,5 – 3 m2 untuk setiap orang. Ini dimaksudkan untuk menyesuaikan antara jumlah penghuni rumah dibandingkan dengan luas bangunan, konsumsi oksigen, dan mencegah bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi yang biasanya akan mudah menularkan kepada anggota keluarga yang lain.
  • Fasilitas-fasilitas yang ada di dalam rumah sehat, antara lain :
    • Sumber air bersih.
      • Tempat pembuangan tinja.
      • Tempat pembuangan air limbah.
      • Tempat pembuangan sampah.
      • Ruang dapur.
      • Ruang tempat berkumpul keluarga
      • Kandang ternak sebaiknya di luar/belakang terpisah dari rumah.

Akhirnya diharapkan kepada para Pemegang Kebijakan untuk :

  1. Membuat kebijakan dari pihak terkait/penentu kebijakan pemerintahan/pemerintah daerah DIY tentang upaya Pemberdayaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
  2. Adanya komitmen dan dukungan tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lain-lain untuk melaksanakan PHBS.
  3. Dukungan tokoh-tokoh dunia usaha sebagai penyandang dana non pemerintah dalam mendukung pelaksanaan PHBS.

Mengingat betapa pentingnya PBHS dalam kehidupan masyarakat, marilah kita bersama-sama memberdayakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimulai dari para pemimpin/aparat pemerintah, dan tokoh masyarakat, serta kita semua. Mengutip kata-kata bijak : mulailah dari diri kita, dari hal yang kecil, dan dari sekarang. (Bahan diambil dari berbagai sumber).

ANALISIS KEBUTUHAN DIKLAT

16 Agustus 2010 by

ANALISIS KEBUTUHAN DIKLAT (Training Needs Assessment)

Oleh Ririn Noorhaisna Raffela

PENDAHULUAN

Langkah paling utama dan pertama dalam penyusunan rancang bangun suatu program diklat adalah kegiatan Analisis Kebutuhan Diklat (AKD) atau Training Needs Assessment (TNA). Analisis kebutuhan Diklat memiliki kaitan erat dengan perencanaan Diklat. Perencanaan yang paling baik didahului dengan identifikasi kebutuhan. Kebutuhan pendidikan dan pelatihan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat pengetahuan dan kemampuan yang diharapkan (sebagaimana terlihat pada misi, fungsi dan tugas) dengan pengetahuan dan kemampuan yang senyatanya dimiliki oleh pegawai.

Diklat dianggap sebagai faktor penting dalam peningkatan kinerja pegawai, proses dan organisasi, sudah luas diakui. Tapi masalahnya banyak diklat yang diselenggarakan oleh suatu organisasi tidak atau kurang memenuhi kebutuhan sesungguhnya. Misalnya yang diperlukan sesungguhnya adalah pelatihan B tetapi yang dilakukan A, akibatnya investasi yang ditanamkan melalui diklat kurang dapat dilihat hasilnya.

Kenyataan yang sering terjadi juga pada saat pembukaan diklat, peserta diklat tidak mencapai jumlah alokasi yang telah ditentukan bahkan sampai 3 hari setelah pembukaan masih kurang peserta diklat. Hal ini menandakan Diklat tersebut sudah mengalami kejenuhan atau materi diklat sudah tidak sesuai dengan kebutuhan peserta diklat. Di lain sisi, banyak alasan pegawai menolak mengikuti diklat, antara lain :
1.  Mendapat perintah menjalankan tugas lainnya.
2.  Tidak mau tinggal di mess dengan alasan keluarga.
3.  Setelah mengikuti diklat mendapat tugas yang tidak sesuai dengan hasil diklat.
4.  Kehilangan pekerjaan/penghasilan tambahan.
Dan sangat kontradiksi bila kita menanyakan kepada mereka yang menjadi peserta diklat tentang tujuannya mengikuti diklat, antara lain :
1.      Menambah wawasan.
2.      Menambah angka kredit untuk promosi kenaikan pangkat atau jabatan.
3.      Mengikuti perintah atasan.
4.      Istirahat dari pekerjaan rutin.
Timbulnya masalah ini tentu disebabkan banyak hal. Salah satunya terletak pada Analisis Kebutuhan Diklat (Training Needs Assessment/TNA)-nya yang tidak pernah dilakukan dengan benar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu diadakan suatu analisis kebutuhan diklat khususnya di satuan kerja. Analisis Kebutuhan Diklat adalah proses kegiatan yang bertujuan untuk menemukenali adanya  kesenjangan kompetensi (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) yang dapat ditingkatkan melalui diklat.

Kegiatan AKD/TNA diharapkan akan menghasilkan jenis-jenis diklat yang dibutuhkan oleh organisasi, sehingga dapat mewujudkan diklat yang tepat sasaran, tepat isi kurikulum dan tepat strategi untuk mencapai tujuan. Melalui kegiatan Analisis Kebutuhan Diklat, maka idealnya setiap program yang disusun dan dijabarkan dalam bentuk kegiatan merupakan perwujudan dari pemenuhan kebutuhan. Hasil yang diharapakan dari Analisis Kebutuhan Diklat akan memperjelas kaitan antara pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dengan peningkatan kinerja lembaga yang merupakan akumulasi dari kinerja para pejabat di dalam suatu organisasi, disebutkan demikian karena setiap pejabat yang dilengkapi dengan jenis-jenis diklat yang dibutuhkan, selanjutnya akan dapat melaksanakan setiap rincian tugas dalam jabatannya.

PENGERTIAN KEBUTUHAN DIKLAT

Kebutuhan menurut Briggs (AKD LAN, 2005 ) adalah “ketimpangan atau gap antara apa yang seharusnya dengan apa yang senyatanya”. Gilley dan Eggland ( AKD LAN, 2005 ) menyatakan bahwa kebutuhan adalah “kesenjangan antara seperangkat kondisi yang ada pada saat sekarang ini dengan seperangkat kondisi yang diharapkan. Dalam dunia kerja, kebutuhan juga diartikan sebagai masalah kinerja (Anung Haryono, 2004).

Diklat mempunyai arti penyelenggaraan proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas dan jabatan tertentu. Kebutuhan diklat adalah jenis diklat yang dibutuhkan oleh seorang pemegang jabatan atau pelaksana pekerjaan tiap jenis jabatan atau unit organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam melaksanakan tugas yang efektif dan efisien (Dephutbun dan ITTO,2000). Sedangkan menurut Lembaga Administrasi Negara kebutuhan diklat adalah kekurangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap seorang pegawai sehingga kurang mampu melaksanakan tugas, tanggung jawab, wewenang dan haknya dalam suatu satuan organisasi. Dengan demikian kebutuhan diklat dapat diartikan sebagai kesenjangan kemampuan pegawai yang terjadi karena adanya perbedaan antara kemampuan yang diharapkan sebagai tuntutan pelaksanaan tugas dalam organisasi dan kemampuan yang ada (Hermansyah dan Azhari, 2002).

Konsep dasar pemikiran kebutuhan diklat adalah adanya deskrepansi kemampuan kerja. Sesuai dengan tingkatan dalam pengungkapan kebutuhan diklat maka deskrepansi dapat terjadi pada seseorang pejabat/pelaksana pekerjaan terhadap tugas di dalam organisasi, jabatan maupun terhadap tugas individu. Secara umum deskrepansi kemampuan kerja diilustrasikan sebagai berikut: Diskrepansi kemampuan kerja dinyatakan perbedaan antara kemampuan kerja seseorang pada saat kini dengan kemampuan kerja yang diinginkan atau seharusnya yang umumnya juga di kenal kemampuan kerja standar/baku.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN DIKLAT

Faktor yang mempengaruhi kebutuhan diklat dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dalam organiasi yang mempengaruhi kebutuhan diklat adalah :

  1. Mutasi Jabatan

Seseorang yang dimutasi dari kedalam jabatan yang lebih tinggi dituntut memiliki kompetensi yang sesuai dengan jabatan tersebut. Jika terdapat beberapa kompetensi yang belum dimiliki maka diperlukan upaya untuk memenuhi kompetensi tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan diklat.

  1. Perluasan atau pembentukan orgnasisasi baru.

Perluasan atau pembentukan organisasi baru akan memerlukan sumberdaya manusia yang akan ditempatkan pada unit tersebut. Hal ini merupakan salah satu faktor timbulnya kebutuhan diklat dalam sebuah organisasi.

  1. Perkembangan lmu Pengetahuan dan teknologi baru.

Contohnya ketika ditemukannya dan digunakannya komputer maka dibutuhkanlah diklat dibidang komputer.

  1. Kurangnya pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

Pegawai yang ditempatkan pada bidang tertentu yang belum pernah sama sekali dia kuasai, dimana pengetahuan, keterampilan dan sikapnya dibawah standar yang diharapkan.

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi timbulnya kebutuhan diklat adalah :

  1. Peraturan perundangan.

Misalnya diklat prajabatan dan diklat struktural

  1. Keadaan ekonomi

Adanya krisis ekonomi dan kepercayaan maka pemerintah mengurangi beberapa  pelayanan sehingga perlu adanya diklat untuk meningkatkan dan mengoptimalkan SDM yang tersedia.

  1. Sikap masyarakat.

Pengharapan dari masyarakat agar instansi pemerintah memberikan pelayanan baru dan perbaikan pada pelayanan yang sudah ada.

JENIS TINGKATAN KEBUTUHAN DIKLAT

Tidak semua masalah kinerja dapat dipecahkan dengan diklat. Diklat dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Berdasarkan tingkat kebutuhannya, Kebutuhan Diklat dibedakan menjadi Kebutuhan Tingkat Organisasi, Tingkat Jabatan dan Tingkat Individu.

  1. Kebutuhan Diklat Tingkat Organisasi
    Kebutuhan Diklat Tingkat Organisasi merupakan himpunan data umum dari bagian atau bidang yang mempunyai kebutuhan Pelatihan.
  2. Kebutuhan Diklat Tingkat Jabatan
    Adanya kesenjangan KSA (knowledge, Skill, Attitude) yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan baik yang bersifat periodik/ insidentil. Kebutuhan Diklat tingkat jabatan dapat diketahui dengan mempergunakan analisis misi, fungsi, tugas dan sub tugas yang diuraikan menjadi kompetensi-kompetensi. Kemudian kompetensi-kompetensi itu dikelompokkan sedemikan rupa sehingga menghasilkan standar diklat untuk tiap-tiap jabatan.
  3. Kebutuhan Diklat Tingkat Individu
    Berkaitan dengan siapa dan jenis diklat apa yang diperlukan. Kebutuhan Diklat tingkat individu dapat disusun dengan mempergunakan TNA Tool (Training Needs Assessment), yakni dengan membandingkan kesenjangan standar kompetensi dalam jabatan terhadap kompetensi yang dimiliki oleh seorang PNS yang bekerja dalam unit jabatan tersebut.

FUNGSI DAN MANFAAT ANALISIS KEBUTUHAN DIKLAT

Hasil TNA adalah identifikasi performance gap. Kesenjangan kinerja tersebut dapat diidentifikasi sebagai perbedaan antara kinerja yang diharapkan dan kinerja aktual individu. Kesenjangan kinerja dapat ditemukan dengan mengidentifikasi dan mendokumentasi standar atau persyaratan kompetensi yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pekerjaan dan mencocokkan dengan kinerja aktual individu tempat kerja. Adapun fungsi dari analisis kebutuhan diklat adalah :

  1. Mengumpulkan informasi tentang skill, knowledge dan feeling pekerja;
  2. Mengumpulkan informasi tentang job content dan job context;
  3. Medefinisikan kinerja standar dan kinerja aktual dalam rincian yang operasional;
  4. Melibatkan stakeholders dan membentuk dukungan;
  5. Memberi data untuk keperluan perencanaan

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari kegiatan analisis kebutuhan diklat, yaitu manfaat langsung dan tidak langsung.

Manfaat langsung adalah :

  1. Menghasilkan program diklat yang disusun sesuai dengan kebutuhan organisasi, jabatan dan individu.
  2. Sebagai dasar penyusunan program diklat yang tepat.
  3. Menambah motivasi peserta diklat dalam mengikuti diklat karena sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Sedangkan manfaat tidak langsung adalah :

  1. Menjaga produktivitas kerja
  2. Meningkatkan produktivitas dalam menghadapi tugas-tugas baru.
  3. Efisiensi biaya organisasi

TEKNIK ANALISIS KEBUTUHAN DIKLAT

Merancang Analisis Kebutuhan Diklat dengan merumuskan masalah dan tujuannya melalui model-model analisis kebutuhan diklat. Model tersebut sebagai berikut :

  1. Model Internal. Kebutuhan diklat pada model ini dilihat dari dalam organisasi. Aktivitas dimulai dengan analisis kesenjangan antara tingkah laku dan keberhasilan pegawai dalam melaksanakan tugas, dibandingkan dengan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan.
  2. Model Eksternal. Kebutuhan diklat pada model ini dilihat dari luar organisasi. Aktivitas dimulai dengan melihat manfaat dari hasil didik bagi masyarakat atau organisasinya.
  3. Model Gabungan. Model ini mengacu pada model sistem organisasi bahwa sesuatu terjadi di dalam organisasi tidak dapat lepas dari apa yang terjadi di luar organisasi (lingkungan eksternal mempengaruhi lingkungan internal)

Dalam melakukan analisis kebutuhan diklat, ada tiga teknik pendekatan yang umum digunakan dalam menentukan kebutuhan diklat, yaitu :

  1. 1. Pendekatan Analisis Kinerja

Langkah-langkah dalam prosedur analisis kinerja tersebut adalah sebagai berikut :
(1) mengidentifikasi standar kinerja, (2) mengidentifikasi kinerja, (3) mengidentifikasi dan merumuskan masalah, (4) mengidentifikasi bukti-bukti masalah, (5) mengidentifkasi penyebab masalah dan (6) mengidentifikasi pemecahan masalah.

  1. 2. Pendekatan Focus Group dan Nominatif Group

Focus Group Technique (FGT) adalah suatu teknik yang dapat digunakan untuk mencari dan menentukan fokus dari suatu kegiatan sesuai dengan kebutuhan kelompok. Teknik ini bersifat kualitatif yang dalam proses pelaksanaannya memerlukan bantuan seorang fasilitator. Dalam penerapan FGT kelompok bisa terdiri dari calon peserta diklat, widyaiswara, penyelenggara diklat dan unsur kepegawaian. Hal-hal yang perlu diperhatikan, adalah :

  1. Jumlah anggota sebaiknya antara 8 – 12 orang
  2. Tempat duduk disusun membentuk huruf “U”
  3. Satu orang fasilitator pada setiap kelompok dibantu oleh seorang pencatat
  4. Ide atau gagasan dikemukakan dengan menjawab empat pertanyaan yang telah disiapkan secara tertulis.
  5. Partisipasi aktif dari semua anggota kelompok sangat diperlukan. Peran fasilitator sangat penting untuk memotivasi anggota dalam menyampaikan ide atau gagasan.
  6. Tidak ada tanggapan, sanggahan atau diskusi terhadap ide atau pemikiran yang disampaikan anggota.
  7. Posisi semua anggota kelompok adalah sama, tidak memandang status atau jabatan.

Untuk menggali ide atau gagasan, empat pertanyaan yang diajukan adalah :

  1. Ketrampilan/pengetahuan dan kemampuan pribadi apakah yang anda miliki pada

saat menduduki jabatan sekarang?

  1. Ketrampilan/pengetahuan dan kemampuan pribadi apakah yang pada kenyataannya anda perlukan dan telah anda pergunakan dalam menyelesaikan tugas pokok dan fungsi anda selama ini?
  2. Ketrampilan/pengetahuan dan kemampuan pribadi apakah yang menurut anda sangat diperlukan untuk dapat menyelesaikan tugas pokok dan fungsi anda selama ini?
  3. Darimana dan bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi anda?

Setelah proses focus group selesai dilanjutkan dengan nominal group technique (NGT). Ada empat kegiatan pokok dalam NGT, yaitu :

  1. Para anggota kelompok menuliskan ide atau gagasan pada selembar kertas (Listing)
  2. Daftar ide atau gagasan dari para anggota kelompok tersebut dicatat pada kertas flipchart (Recording)
  3. Dilakukan klasifikasi, penyederhanaan dan kombinasi ide atau gagasan untuk menghindari duplikasi (Collating).
  4. Para anggota kelompok melakukan penilaian secara individual untuk menentukan prioritas (Prioritizing)
  1. 3. Pendekatan D I F (Difficulties, Importance, Frequency).

DIF analisis adalah analisis kebutuhan diklat yang berdasarkan pada job analisis (Analisis Jabatan) yang diikuti dengan mencari tingkat kesulitan (difficulties/D), tingkat kepentingan (importance/I) dan tingkat keseringan (frequency/F). Berdasarkan tingkat-tingkat tersebut dicari analisis job manakah yang paling D, I, F. Dari hasil tersebut, maka patut dicurigai terdapat kesenjangan ketrampilan. Mengapa patut dicurigai?, karena harus dikenali kemungkinan adanya indikator pelatihannya dengan menggunakan pertanyaan mengapa. Disamping itu kita harus juga melaksanakan wawancara dengan atasan yang bersangkutan (responden) untuk mengetahui standar prestasi responden. Apakah yang bersangkutan sudah memenuhi standar yang ditentukan.

Jika terdapat prestasi yang di bawah standar, maka dilakukan analisis lebih lanjut dalam rangka penemuan kebutuhan diklat. Hal ini dimungkinkan, bahwa ada kemungkinan prestasi di bawah standar tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan ketrampilan, namun karena indikator lain seperti sarana dan prasarana.

DAFTAR PUSTAKA

Dephutbun dan ITTO. Modul Pelatihan : Pelatihan Desain Pelatihan. Bogor: Departemen Kehutanan dan Perkebunan dan International Tropical Timber Organization, 2000.

Haryono, Anung. Analisis Kebutuhan Pelatihan/Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media, 2004.

Hermasjah dan Azhari. “Identifikasi Kebutuhan Diklat”, Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan Tingkat Pertaman. Jakarta: LAN, 2002

LAN. Model-Model Diklat Analisis Kebutuhan Diklat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pelatihan Teknik Menejemen, 1999.

Irianto Jusuf. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan (Dari Analisis Kebutuhan Sampai Evaluasi Program Pelatihan), Insani Cendekia, Jakarta, 2001.

Mangkuprawira, Sjafri.  Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik, Ghalia Indonesia, Jakarta Selatan, 2004.

PELATIHAN TENAGA GIZI PUSKESMAS

25 Juni 2010 by

oleh Ririn NR,SP

Pemerintah telah memutuskan untuk menggunakan STANDAR WHO 2005;

– Seri diskusi dan Lokakarya Standar WHO   (2006, 2007)

– Pra Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi

Hal-hal baru (inovatif) dari standar WHO :

  1. Preskriptif (prescriptive)  menggambarkan bagaimana anak harus tumbuh.
  2. Menggunakan bayi yang disusui eksklusif sebagai model
  3. Sampel à internasional (6 negara)
  4. Untuk menilai obesity
  5. Tersedia standar Velocity reference (kecepatan pertumbuhan)
  6. Sesuai dengan perkembangan psikomotor

Pada pelatihan ini peserta di berikan materi tentang Pengukuran Antropometri dan penggunaan standar WHO 2005.

Pengukuran Panjang Badan BayiPengukuran Panjang Badan Bayi oleh peserta latih.

Penimbangan Balita

Pengukuran Tinggi Badan Balita

Konseling Gizi

Senyum ceria peserta pelatihan…..cisssssss…….

EVALUASI PASCA PELATIHAN BIDAN POSKESDES DI KABUPATEN KATINGAN

14 Juni 2010 by

ditulis oleh Ririn NR dan Riduan Zaki

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Salah satu kegiatan yang berperan langsung terhadap pengembangan pemberdayaan manusia di provinsi Kalimantan Tengah adalah pelatihan. Pelatihan yang efektif akan menghasilkan tenaga kesehatan yang lebih bermutu, sehingga mampu melaksanakan tugasnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, untuk dapat mewujudkan tersedianya sumber daya manusia Indonesia yang produktif.

Kegiatan evaluasi pelatihan merupakan bagian dari suatu pelatihan, yang berperan sebagai upaya untuk mengetahui seberapa besar manfaat pelatihan tersebut bagi individu, tim atau organisasi, dan juga sebagai sebuah rangkaian siklus yang dinamis dan berkesinambungan dalam memberikan umpan balik pada proses perbaikan dan penyempurnaan program pelatihan khususnya pengembangan sumber daya manusia kesehatan dalam arti luas.

Sehubungan dengan hal tersebut, Bapelkes melalui program ini melakukan kegiatan evaluasi pasca pelatihan bidan Poskesdes yang sudah pernah di  latih, untuk mengetahui dampak kinerja yang dihasilkan tenaga bidan bagi terwujudnya desa siaga.

B. TUJUAN

Tujuan Umum :

Memperoleh gambaran  dampak kinerja bidan Poskesdes yang sudah pernah dilatih terhadap pengembangan Desa Siaga

Tujuan Khusus :

  1. Mendapatkan gambaran kemampuan bidan Poskesdes dalam menjalankan tugas dan fungsinya
  2. Mendapatkan gambaran hambatan yang timbul dalam menjalankan tugas dan fungsi bidan Poskesdes.
  3. Mengidentifikasi program intervensi lebih lanjut yang telah dilakukan.

C. MANFAAT

  1. Dapat mengetahui kesesuaian kurikulum dan penyelenggaraan pelatihan dengan perkembangan keadaan
  2. Dapat mengetahui relevansi program pelatihan dengan kebutuhan peningkatan kinerja operasional
  3. Sebagai bahan masukan untuk merumuskan kebijakan pengembangan SDM kesehatan di wilayahnya.

D. METODE

Metode pengumpulan data evaluasi pasca pelatihan (EPP) disesuaikan dengan kompetensi yang akan dilihat di tempat kerja mantan peserta latih yang meliputi :

  1. Ranah pengetahuan diketahui dengan test tertulis, wawancara dan FGD
  2. Ranah keterampilan dengan metode observasi dan cek dokumen
  3. Ranah sikap dengan metode wawancara dengan pihak ketiga (pimpinan, teman sekerja dan bawahan)

E. UNSUR EPP

Unsur utama EPP :

  1. Peningkatan pengetahuan mantan peserta latih
  2. Penerapan keterampilan yang didapat dari pelatihan dan penerapan di tempat kerja
  3. Kepuasan atasan, bawahan serta teman sejawat atas hasil kerja, serta perubahan sikap setelah

Unsur pendukung EPP :

  1. Faktor lain yang mempengaruhi penerapan kompetensi seperti : kebijakan, prosedur kerja, ketersediaan sarana, alat, bahan serta biaya.
  2. Kurikulum dan proses, sebagai bahan untuk mengidentifikasi kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan di lapangan.

F. RESPONDEN

Responden utama EPP adalah mantan peserta latih yang telah mengikuti pelatihan Bidan Poskesdes untuk mendukung Desa Siaga pada tahun 2008, dan responden pendukung adalah atasan (kepala desa dan pimpinan Puskesmas)dan rekan kerja. Jumlah responden 20 orang.

G. LOKASI PELAKSANAAN

Kabupaten Katingan di Puskesmas Kasongan dan Puskesmas Kereng Pangi

H. BIAYA

Biaya di bebankan pada anggaran Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2009

II. PROSES KEGIATAN EVALUASI PASCA PELATIHAN BIDAN POSKESDES UNTUK MENDUKUNG DESA SIAGA

A. RAPAT PERSIAPAN

  1. Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah menyusun draft Surat Keputusan Tim evaluasi pasca pelatihan bidan Poskesdes untuk mendukung Desa Siaga dan draft kerangka acuan.
  2. Surat keputusan diproses untuk disyahkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah.
  3. Setelah surat keputusan ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan, dibuat Surat Tugas oleh Kepala Bapelkes Provinsi Kalimatan Tengah.
  4. Tim mengadakan rapat di Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah untuk membahas Kerangka Acuan dan mendapatkan kesepakatan jadwal kegiatan evaluasi pasca pelatihan bidan poskesdes untuk mendukung desa siaga.

B. PENYUSUNAN INSTRUMEN

Instrumen disusun dengan langkah kegiatan sebagai berikut :

  1. Tim mempelajari kurikulum pelatihan Bidan Poskesdes untuk mendukung Desa Siaga yang di pakai pada waktu pelatihan.
  2. Mempelajari tujuan pelatihan Bidan Poskesdes, sebagai dasar dalam pembuatan instrumen.
  3. Instrumen juga di buat berdasarkan dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dibuat peserta pada waktu hari terakhir pelatihan.
  4. Instrumen dibuat untuk melihat perubahan performance mantan peserta latih sebagai implementasi dari pelatihan yang telah diikuti.

C. PENGUMPULAN DATA

Kegiatan pengumpulan data adalah sebagai berikut :

  1. Tim mengirim surat dan menemui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota untuk menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan Tim.
  2. Surat juga dikirimkan ke kepala Puskesmas tempat tujuan agar pihak Puskesmas dapat mengundang bidan Poskesdes dan kepala desa terlebih dahulu.
  3. Mantan peserta latih (bidan Poskesdes) dikumpulkan di aula Puskesmas, kemudian dilakukan wawancara.
  4. Untuk cros chek keabsahan informasi yang diberikan mantan peserta latih, tim melakukan wawancara dengan kepala desa dan  pimpinan Puskesmas serta rekan sejawat.
  5. Dilakukan focus group diskusi semua bidan Poskesdes, kelapa desa dan pimpinan Puskesmas serta penangungjawab Poskesdes di Puskesmas.

D. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Data yang diperoleh diolah secara kualitatif dan dianalisa secara deskriftif.

Kegiatan evaluasi pasca pelatihan bidan poskesdes untuk mendukung desa siaga :

  1. Rapat persiapan di Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah
  2. Penyusunan instrumen di Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah.
  3. Pengumpulan data dilaksanakan di Puskesmas Kereng Pangi Kecamatan Kereng Pangi, Kabupaten Katingan.
  4. Pengolahan dan analisa data di Bapelkes Provinsi Kalimantan Tengah
  5. Paparan hasil di Bapelkes Provinsi Kalimatan Tengah
  6. Editing di Bapelkes Provinsi Kalimatan Tengah

III. HASIL KEGIATAN EVALUASI PASCA PELATIHAN BIDAN POSKESDES UNTUK MENDUKUNG DESA SIAGA

Bidan Poskesdes yang pernah mengikuti pelatihan bidan Poskesdes di Kabupaten Katingan yang hadir  adalah dari Puskesmas Kasongan 2 orang dan dari Puskesmas Kereng Pangi ada 3 orang.

A. GAMBARAN UMUM KEBERHASILAN POSKESDES

  1. Komponen Umum Poskesdes
Komponen Umum Poskesdes Ds. Talian Kereng Ds. Hampalit Ds. Banut Kalanaman Ds. Tumbang Liting Ds. Telangkah
1. Jumlah kader poskesdes aktif 3 orang 2 orang 1 orang 2 orang 4 orang
2. Tenaga kesehtan lain di Poskesdes Ada (perawat) Tidak Ada (perawat) Tidak Ada (perawat)
3. Peralatan kesehatan dan obat di Poskesdes Kurang Sangat kurang Sangat kurang Kurang Sangat kurang
4. Tempat kegiatan pelayanan di Poskesdes Ada Ada / Pustu Ada/Pustu Ada Ada/Pustu
5. Dana operasional Poskesdes Tidak Ada/dinkes Tidak Ada/dinkes Ada/ Dinkes
6. Data catatan jumlah bayi, jumlah kematian dll Ada Ada Ada Ada Ada
7. Usaha kesehatan bersumber masyarakat/UKBM Posyandu balita Posyandu balita Posyandu balita -Posyandu balita-Posyandu lansia-Ambulan desa

-Tabulin

-Tabungan balita

-Tabungan jamban

-Bapak siaga

Posyandu balita

2. Komponen Cakupan Pelayanan

Komponen Cakupan Pelayanan Ds. Talian Kereng Ds. Hampalit Ds. Banut Kalanaman Ds. Tumbang Liting Ds. Telangkah
1. Cakupan ibu hamil 7 orang 6 orang 4 orang 62 % 12 orang
2. Cakupan persalinan oleh bidan 6 orang 6 orang 4 orang 50 % 12 orang
3. Cakupan kunjungan neonatus 6 orang 6 orang 4 orang 50 % 12 orang
4. Cakupan BBLR yang dirujuk
5. Jumlah bayi dan balita BB tdk naik ditangani
6. Jumlah balita Gakin umur 6 – 24 bulan dapat MP-ASI
7. Cakupan imunisasi 90 % 6 orang 4 orang 80 % 12 orang
8. Cakupan pelayanan gawat darurat dan KLB
9. Cakupan keluarga yang memiliki jamban 100 % 100 % 10 RT 23,66 % 647 orang
10.  Cakupan keluarga binaan sadar gizi 200 KK 217 KK / 56 % 651 orang
11.  Cakupan keluarga menggunakan garam beryodium 100 % 100 % 200 KK 100 % 651 orang
12.  Cakupan rumah tangga PHBS 100 % 100 % 200 KK 100 % 651 orang
13.  Jumlah kasus kesakitan akibat penyakit menular 3 orang
14.  Jumlah kasus kematian akibat penyakit menular

3. Komponen Kegiatan Poskesdes

Komponen Kegiatan Poskesdes Ds. Talian Kereng Ds. Hampalit Ds. Banut Kalanaman Ds. Tumbang Liting Ds. Telangkah
1. Forum masyarakat desa membahas Poskesdes Tidak Tidak Pernah Pernah Tidak
2. Sistem kegawatdaruratan dan penanggulangan bencana di desa Ya Ya Tidak Tidak Ya
3. Sistem surveilans berbasis masyarakat desa Tidak Ya Tidak Ya ya

4. Indikator keberhasilan program Poskesdes

Kuesioner di ajukan kepada pimpinan Puskesmas, dan dari data diperoleh :

  1. Jumlah Poskesdes di wilayah kerja Puskesmas Kereng Pangi 1 buah dan di wilayah Puskesmas Kasongan 1 buah.
  2. Poskesdes yang aktif menjalankan program pelayanan di wilayah kerja Puskesmas Kereng Pangi 1 buah dan di wilayah Puskesmas Kasongan 1 buah.
  3. Sumber dana pembentukan Poskesdes : bantuan pemerintah dan swadaya masyarakat
  4. Dampak adanya Poskedes terhadap program pelayanan Puskesmas :
  • Sistem pencatatan dan pelaporan lebih baik
  • Pencegahan dan penanganan kasus lebih baik
  • Meningkatnya cakupan hasil program kegiatan
  • Pelayanan ibu melahirkan sudah di layani petugas kesehatan.
  1. Dampak peningkatan penemuan kasus kejadian luar biasa/KLB : sistem pencatatan dan pelaporan kasus serta penanganan kasus lebih baik
  2. Kunjungan ibu hamil ke petugas kesehatan meningkat : adanya peningkatan kunjungan ibu hamil
  3. Jumlah kasus kematian ibu dan bayi  / balita gizi buruk tidak ditemukan
  4. Bentuk pembinaan/monitoring yang dilakukan Puskesmas terhadap Bidan Poskesdes adalah bimbingan teknis pelaksanaan desa siaga dan evaluasi pelaksanaan kegiatan

5. Dukungan kepala desa/aparat desa terhadap Poskesdes

Komponen Kegiatan Poskesdes Ds. Talian Kereng Ds. Hampalit Ds. Banut Kalanaman Ds. Tumbang Liting Ds. Telangkah
1. Forum masyarakat desa membahas Poskesdes Tidak Tidak Pernah Pernah Tidak
2. Sistem kegawatdaruratan dan penanggulangan bencana di desa Ya Ya Tidak Tidak Ya
3. Sistem surveilans berbasis masyarakat desa Tidak Ya Tidak Ya ya

B. HASIL ANALISA KEBERHASILAN BIDAN POSKESDES

1. Identifikasi retensi dari peningkatan /perubahan dari mantan peserta latih yang diperoleh selama pelatihan :

a.  Ada bidan yang merangkap, bertanggung jawab terhadap desa tapi bekerja di Puskesmas induk.

b. Bidan desa yang bekerja di Poskesdes sudah berupaya untuk mengubah perilaku masyarakat yang kurang sesuai dengan kesehatan, namun terbentur dengan masalah sosial budaya dan ekonomi.

2. Adanya komitmen mantan peserta latih dalam mengaplikasikan konsep/tools yang didapat selama pelatihan :

a. Bidan bekerja di Puskesmas Pembantu tetapi tetap melaksanakan konsep Poskesdes yang diterima saat pelatihan.

b. Bidan dan kader yang bekerja di Poskesdes  perlu mendapat perhatian terutama dukungan sarana dan prasarana Poskesdes.

c. Rencana tindak lanjut selama pelatihan tidak semua dapat dilaksanakan, namun bidan tetap memberikan pelayanan  yang optimal.

3. Kemampuan mantan peserta latih dalam menjalankan tugas dan fungsinya di tempat tugas :

a. Bidan desa yang dilatih sudah mampu menerapkan prinsip-prinsip pelayanan sesuai dengan pelatihan.

b. Perlu adanya tindak lanjut dukungan dari aparat desa atau kelurahan tempat bidan bertugas untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya

c. peserta di tempat tugas lebih meningkat, terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

d. Kegiatan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat sudah dilakukan bidan untuk merubah perilaku masyarakat, meliputi : kebiasaan merokok, kadarzi, jamban keluarga dan perkawinan usia muda.

4. Hambatan yang timbul dalam melaksanakan  tugas dan fungsi bidan Poskesdes serta terindentifikasinya program intervensi lebih lanjut yang diperlukan :

a. Ada desa yang belum terbentuk Poskesdes karena bidan baru pindah ketempat desa tersebut.

b. Adanya wilayah yang luas sehingga jangkauan Poskesdes juga luas, dan kesulitan dalam mengelola kegiatan Poskesdes.

IV. PENUTUP

A. KESIMPULAN

  1. Ada bidan yang merangkap, bertanggung jawab terhadap desa tapi bekerja di Puskesmas induk.
  2. Bidan desa yang bekerja di Poskesdes sudah berupaya untuk mengubah perilaku masyarakat yang kurang sesuai dengan kesehatan, namun terbentur dengan masalah sosial budaya dan ekonomi.
  3. Bidan bekerja di Puskesmas Pembantu tetapi tetap melaksanakan konsep Poskesdes yang diterima saat pelatihan.
  4. Rencana tindak lanjut selama pelatihan tidak semua dapat dilaksanakan, namun bidan tetap memberikan pelayanan  yang optimal.
  5. Bidan desa yang dilatih sudah mampu menerapkan prinsip-prinsip pelayanan sesuai dengan pelatihan.
  6. Kemampuan peserta di tempat tugas lebih meningkat, terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
  7. Kegiatan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat sudah dilakukan bidan untuk merubah perilaku masyarakat, meliputi : kebiasaan merokok, kadarzi, jamban keluarga da perkawinan usia muda.
  8. Ada desa yang belum terbentuk Poskesdes karena bidan baru pindah ketempat desa tersebut.
  9. Adanya wilayah yang luas sehingga jangkauan Poskesdes juga luas, dan kesulitan dalam mengelola kegiatan Poskesdes.

B. SARAN

  1. Bidan dan kader yang bekerja di Poskesdes  perlu mendapat perhatian terutama dukungan sarana dan prasarana Poskesdes.
  2. Perlu adanya tindak lanjut dukungan dari aparat desa atau kelurahan tempat bidan bertugas untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya
  3. Perlu adanya pelatihan kader Poskesdes, sehingga kader dapat lebih opyimal membantu kegiatan Poskesdes.

DAFTAR  PUSTAKA

Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Monitoring dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan (Modul Management of Training). Badan Pendidikan dan Pelatihan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 2002.

Lembaga Administrasi Negara RI. Metode Pengukuran dan Instrumen Penelitian (Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Madya). Lembaga Administrasi Negara RI, Jakarta, 2003.

Nana Sudjana & Ibrahim. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru Algesindo,Bandung, 2004.

Purwanto dan Atwi Suparman. Evaluasi Program Diklat. STIA, LAN, Jakarta, 1999.

PENGGERAKAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

19 Mei 2010 by

oleh Ririn Noorhaisna Raffela, SP

PENGERTIAN
Pergerakan dan Pemberdayaan Masyarakat adalah segala upaya yang bersifat persuasif dan tidak memerintah yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku dan kemampuan masyarakat dalam menemukan, merencanakan dan memecahkan masalah menggunakan sumber daya/potensi yang mereka miliki termasuk partisipasi dan dukungan tokoh-tokoh masyarakat serta LSM yang ada dan hidup di masyarakat.

TUJUAN
Tujuan Umum : Meningkatkan kemandirian masyarakat dan keluarga dalam bidang kesehatan sehingga masyarakat dapat memberikan andil dalam meningkatkan derajat kesehatannya.
Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatannya sendiri
3. Meningkatkan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat.
4. Terwujudnya pelembagaan upaya kesehatan masyarakat di tingkat lapangan
Penggerakan dan pemberdayaan masyarakat merupakan upaya menumbuh-kembangkan kemampuan masyarakat, serta mengembangkan peran serta masyarakat dengan semangat gotong royong dalam pembangunan.

PRINSIP-PRINSIP
1. Menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat.
2. Menumbuhkan dan atau mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan
3. Mengembangkan semangat gotong royong dalam pembangunan kesehatan
4. Bekerja bersama masyarakat
5. Menggalang kemitraan dengan LSM dan organisasi kemasyarakatan yang ada di masyarakat
6. Penyerahan pengambilan keputusan kepada masyarakat.

CIRI-CIRI
1. Upaya yang berlandaskan pada penggerakan dan pemberdayaan masyarakat
2. Adanya kemampuan / kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri
3. Kegiatan yang segala sesuatu diatur oleh masyarakat secara sukarela

KEMAMPUAN DAN KEKUATAN YANG DIMILIKI
1. Tokoh masyarakat
2. Organisasi kemasyarakatan
3. Dana masyarakat
4. Sarana dan material yang dimiliki masyarakat
5. Pengetahuan masyarakat
6. Teknologi yang dimiliki masyarakat
7. Pengambilan keputusan

STRATEGI
1. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah disediakan oleh pemerintah
3. Mengembangkan berbagai cara untuk menggali dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki oleh masyarakat untuk pembangunan kesehatan
4. Mengembangkan berbagai bentuk kegiatan pembangunan kesehatan yang sesuai dengan kultur budaya masyarakat setempat
5. Mengembangkan manajemen sumber daya yang dimiliki masyarakat secara terbuka (transparan)
STRATEGI YANG PERLU DIPERHATIKAN ADALAH BUKAN MEMAKSA MASYARAKAT TETAPI ATAS KESADARANNYA SENDIRI

PROSES PENGGERAKAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
1. Mengenali kondisi dari masyarakat, yaitu :
     a. Mengenali karakteristik masyarakat
     b. Menggalang kesepakatan dengan berbagai tokoh masyarakat baik formal maupun non formal
     c. Mengenali prioritas keinginan masyarakat
     d. Kepemimpinan dalam menggerakan masyarakat
2. Melakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat serta lembaga-lembaga masyarakat yang ada, dan melibatkan lembaga dan tokoh-tokoh tersebut dalam kegiatan
3. Menfasilitasi masyarakat dalam kegiatan yang dilakukan dengan harapan agar terjadi proses pembelajaran dan juga proses menolong diri sendiri,
4. Menyenggarakan forum pertemuan kelompok-kelompok sebagai wahana untuk berdiskusi,saling berbagi pengalaman, mengemukakan masalah dan mencari solusi bersama.
5. Penggalian dan pengembangan potensi masyarakat
6. Penumbuhan dan pembentukan wadah dari kegiatan yang berasal dari pengembangan potensi masyarakat tersebut.
7. Jika Kegiatan Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan di suatu wilayah sebaiknya dilakukan pada cakupan masyarakat yang terkecil.

TAHAPAN KEGIATAN PENGGERAKAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
1. Tahap Penjajakan. Pada awal penggerakan dan pemberdayaan masyarakat akan tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan dan juga potensi apa yang dimiliki oleh masyarakat. Dalam tahap ini yang dilakukan adalah : Pengenalan Masalah dan Penentuan Prioritas Masalah , Identifikasi Potensi Masyarakat dan Sumber lainnya serta Pemecahan Masalah dan Pemikiran Alternatif Pemecahan Masalah
     a. Pengenalan Masalah
          Masalah adalah kesenjangan antara apa yang ditemukan dengan apa yang seharusnya, atau adanya suatu kesenjangan        antara apa yang diharapkan (what should be) dengan apa yang terjadi (what it is).
          1) Masalah yang menyangkut masyarakat
          2) Masalah manajemen upaya kesehatan
          3) Masalah pada lingkungan
          Contoh masalah : Target Kunjungan Bumil : 100% dari bumil yang ada (jumlah bumil 100 orang). Hasil Kegiatan : jumlah   Kunjungan Bumil 75 orang . Kesenjangan : target tidak tercapai (hanya tercapai 75% dari bumil yang ada)
     b. Penentuan Prioritas Masalah
          Diusahakan prioritas masalah dipilih melalui kesepakatan. Penentuan prioritas masalah diperlukan karena : Adanya keterbatasan sumber daya dibandingkan dengan problem dan atau kebutuhan yang harus diselesaikan atau dipenuhi , Problem dan kebutuhan kesehatan lebih besar dibandingkan dengan sumber daya yang ada .
     c. Merumuskan Masalah
         WHAT= Apa masalahnya , WHO = Siapa yang terkena masalahnya , WHEN = Bilamana masalah terjadi , WHERE = Dimana masalah terjadi , HOW = Berapa Besar masalahnya
     d. Mencari akar penyebab masalah
          Kategori yang dapat digunakan adalah : man, money, material, methode , apa, bagaimana, mengapa, dimana
     e. Menetapkan cara-cara memecahkan masalah
          Kesepakatan di antara anggota masyarakat. Bila tidak terjadi kesepa katan dapat digunakan kriteria matriks. Harus dicari alternatif pemecah an masalahnya.

2. Tahap Perencanaan , dengan membuat rumusan tujuan kegiatan, menyusun rencana kegiatan dan berikutnya melakukan pengorganisasian kegiatan.
3. Tahap Persiapan Pelaksanaan,melakukan penyuluhan tentang kegiatan yang akan dilakukan , selanjutnya dilakukan orientasi dan latihan bagi petugas dan selanjutnya menyiapkan fisik dan non fisik untuk melaksanakan kegiatan.

4. Tahap Pelaksanaan Kegiatan di Lapangan, adalah melakukan advokasi kepada penentu kebijakan, Toma-Toga dan komponen masyarakat lainnya yang mempunyai pengaruh dalam keberhasilan kegiatan, selanjutnya dilakukukan KIE dan KIP Konseling, melakukan pemberdayaan institusi masyarakat, dan akhirnya dilakukan pelayanan program.

5. Monitoring dan Evaluasi

Akreditasi Pelatihan Kesehatan

12 Mei 2010 by

 AKREDITASI DAN SERTIFIKASI PELATIHAN KESEHATAN

(Oleh : Norliani,SKM.M.Kes)

LATAR BELAKANG.         Dalam PP No. 32 tahun 1996 menetapkan bahwa Pelatihan di bidang kesehatan wajib memenuhi persyaratan yang menjamin kelangsungan penyelenggaraan pelatihan, mengingat  Salah satu upaya untuk peningkatan kualitas SDM Kesehatan adalah melalui Pelatihan.       Dalam Kepmenkes No. 725 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan pelatihan di Bidang Kesehatan telah dikembangkan suatu istrumen oleh Pusdiklat Kesehatan dalam rangka membina dan menjamin mutu penyelenggaraan pelatihan yaitu melalui  AKREDITASI PELATIHAN. Melalui  akreditasi pelatihan akan diperoleh gambaran mutu penyelenggaraan pelatihan dan kompetensi  lulusan dari setiap program pelatihan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan

TUJUAN : Akreditasi Pelatihan   adalah diperolehnya Pengakuan terhadap  Program Pelatihan telah memenuhi standar yang ditetapkan berdasarkan kompetensi yang akan dicapai, sehingga memberikan jaminan kepada peserta latih akan  penyelenggaraan pelatihan yang bermutu.

Sertifikasi Pelatihan : adalah Penataan dalam pengelolaan Sertifikat pelatihan, agar kepemilikan sertifikat pelatihan mendapat pengakuan terhadap kompetensi yang dimiliki, baik dilingkungan profesi maupun organisasi tempat bekerja.

SASARAN AKREDITASI : PELATIHAN FUNGSIONAL (pelatihan yang dilaksanakan sesuai dengan jenis dan jenjang jabatan fungsional) PELATIHAN TEKNIS (pelatihan teknis profesi kesehatan, teknis upaya kesehatan & teknis manajemen kesehatan.

Pelaksanaan Akredeitasi Pelatihan. Pelaksanaan Akreditasi dilakukan oleh Tim Akreditasi Pelatihan. Tim terdiri dari anggota tetap (inkes Provinsi & Bapelkes) & dapat melibatkan unsur lain sesuai kebutuhan seperti : Unit teknis, Organisasi profesi, DLL.         

1.   Tim akreditasi di Pusat berkedudukan di Pusdiklat SDM  kesehatan.       

2.  Tim akreditasi Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) / Bapelkes nasional, berkedudukan di masing-masing BBPK/Bapelkes Nional.

3.  Tim akreditasi di Provinsi dan kabupaten berkedudukan di Dinas Kesehatan Provinsi atau Bapelkes setempat sesuai petunjuk Kepala Dinas Kesehatan  Provinsi.

 Tugas Tim akreditasi pusat, selain melaksanakan penilaian akreditasi, juga melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi ke daerah sesuai kebutuhan.

KOMPONEN AKRESDITASI : Komponen yang dinilai dalam akreditasi yaitu : kurikulum, peserta latih, pelatih & penyelenggara pelatihan.

A. KURIKULUM .    Lengkap dengan Garis-garis Besar Program  Pembelajaran (GBPP) untuk tiap materi  yg      meliputi : Tujuan pelatihan, struktur   program     &   kesesuaian antar materi   pembelajaran dgn   tujuan pelatihan

B. PESERTA :  Kriteria & jumlah peserta ditetapkan           untuk         setiap jenis pelatihan dan   banyaknya peserta / kelas sesuai dengan jenis   pelatihan.

C. PELATIH :  Kriteria pelatih sesuai dgn keahlian &   materi  yg   diberikan, serta memiliki  kemampuan dalam bidang kediklatan

D. PENYELENGGARA PELATIHAN.  Adalah Tenaga pengelola pelatihan yg telah mengikuti MOT dan TOC serta adanya   kewenangan hukum      yang dimiliki oleh   institusi tersebut.

PENGAJUAN AKREDITASI : Penyelenggara Pelatihan mengajukan usulan akreditasi kepada Tim Akreditasi Pelatihan 1 bulan—2 mingggu sebelum pelatihan dilaksanakan. Selanjutnya  Penyelenggara mengisi formulir akreditasi yang sudah dipersiapkan di tingkat provinsi.    Tim melakukan penilaian terhadap berkas yg diajukan. Jika hasil penilaian telah mencapai nilai akreditasi, maka akan diberikan Surat Keterangan bahwa pelatihan tsb TERAKREDITASI sesuai kategori penilaian.

        Jika nilai belum mencapai maka Tim akan memberikan umpan balik paling lambat 1 minggu setelah penilaian dan selanjutnya pihak penyelenggara melakukan perbaikan selama 1 minggu.  Keputusan Akreditasi : TERAKREDITASI MEMUASKAN, TERAKREDITASI BAIK, TERAKREDITASI dan TIDAK TERAKREDITASI

PENGAJUAN SERTIFIKAT. Persyaratan Pengajuan :  Surat permohonan diajukan pada saat pelatihan & paling lambat 2 hari setelah pelatihan dimulai, dengan melengkapi : 1. Surat keterangan bahwa pelatihan terakreditasi. 2. Kerangka acuan. 3. SK Panitia, 4. Jadual pelatihan , 5. Data peserta lengkap dgn biodata peserta, 6. Foto peserta 4 x 6 dan berwarna.

NILAI AKREDITASI SERIFIKAT : nilai sertifikat berdasarkan lama diklat yang diselenggarakan (berdasarkan Kepmenkes No. 725 tahun 2003) ; adalah 30 – 80 jam    nilai 1 SKS,  81 – 160 jam nilai 2 SKS, 161 – 400 nilai 3 SKS, 401 – 640 jam nilai 6 SKS, 641 – 960 jam nilai 9 SKS dan >960 jam nilai 15 SKS.

PENERBITAN DAN PENANDATANGANAN SERTIFIKAT.  Pelatihan Ditingkat Pusat, sertifikat diterbitkan oleh Kepala Pusdiklat SDM Kesehatan,  dan Pelatihan di tingkat Daerah, diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.

KETRAMPILAN FASILITASI YANG EFEKTIF

7 Mei 2010 by

Oleh : Uria Guna Dharma

Salah satu faktor penentu sukses atau tidaknya suatu pertemuan / seminar adalah seorang fasilitator yang profesional. Fasilitator adalah orang yang ditugasi dan mempunyai kemampuan membuat pertemuan menjadi nyaman dan menyenangkan bagi semua peserta sehingga semua peserta pertemuan dapat membagikan ide, opini, pengalaman, serta keahlian mereka agar tujuan pertemuan dapat tercapai  dan ada kesepakatan tindak lanjut / action plan.

Bagaimana menjadi fasilitator yang efektif ? Selain kemampuan akademik, seorang fasilitator harus mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan fokus mereka terhadap 3 dimensi, yaitu : proses, hasil dan hubungan. Jadi kemampuan dasar seorang fasilitator adalah pertama;  membuat setiap orang merasa nyaman dan terhormat. Hal ini dapat berhasil apabila : seorang fasilitator mengenal semua peserta yang hadir dalam sebuah pertemuan, menggunakan bahasa non-verbal (body language) yang efektif, mampu menerima keberadaan peserta dan selalu memeriksa pemahaman peserta dengan umpan balik.

Hal yang kedua adalah : mendorong partisipasi seluruh peserta, dengan cara membagi peserta dalam kelompok kecil (jika memungkinkan), menggunkan visual aid, sering menggunakan pertanyaan yang terbuka, dan memperhatikan peserta yang paling diam (memberikan spirit dan motivasi untuk berperan lebih aktif).

Kemampuan yang ketiga adalah : mencegah dan mengelola konflik. Tips untuk mencegah dan mengelola konflik adalah dengan meminta peserta menentukan kriteria yang akan dipakai dalam mengambil keputusan. Kalau ada 2 (dua) orang tidak sepakat, mintalah agar mereka masing-masing merefleksikan posisi lawannya dengan menggunakan active listening, hingga mereka dapat memahami posisi lawannya. Biarkan kalau ada kesepakatan untuk tidak sepakat, jikalau ada ksepakatan segera konfirmasikan dengan seluruh peserta.

Keempat, kemampuan mendengar dan mengamati. Karena pengalaman dari peserta yang paling penting dalam proses pembelajaran, fasilitator perlu lebih banyak mendengarkan peserta mengungkapkan pengalaman dan pendapatnya. Peserta selalu beragam sikap dan wataknya. Ada yang aktif dan yang pasif. Seorang fasilitator yang baik, selalu memperhatikan peserrta yang paling diam dengan cara-cara yang halus untuk memberinya spirit dan motivasi untuk berperan lebih aktif.

 Kelima, membimbing kelompok. Seringkali sebuah proses pertemuan atau diskusi mengalami kebuntuan, hal ini  bisa diakibatkan karena peserta mulai jenuh. Dalam situasi ini, fasilitator penting sekali untuk selalu kreatif dengan energizer dan humor-humor segar. Selain itu kebanyakan peserta pertemuan memiliki kecenderungan fokus pada substansi dan hasil tanpa menghargai pentingnya proses. Dalam hali ini dibutuhkan juga seni memobilitasi kekuatan suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Fasilitator memiliki peran sebagai Tool Giver atau pemberi alat bantu agar proses dialog menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Biasanya alat-alat bantu itu berupa pertanyaan-pertanyaan kunci yang sederhana dan bisa membantu peserta mulai saling berdialog dan berdiskusi. 

 Ada beberapa tips dalam memfasilitasi sebuah pertemuan (Meeting facilitation Tips), antara lain : menyusun dan menempelkan agenda, dimana kalau diskusi mulai menjauh dari topik, gunakan agenda untuk mengarahkan diskusi lagi. Kemudian bisa dengan menggunakan flip chart “Tempat Parkir” untuk merekam isu-isu yang tidak masuk dalam agenda. Pada akhir pertemuan, sepakati apakah isu-isu itu akan dibahas atau tidak.

 Hal selanjutnya dalam tips memfasilitasi pertemuan, adalah jika ingin memimpin diskusi, berdirilah di bagian depan tengah ruangan. Jika ingin membiarkan kelompok yang memimpin diskusi, duduklah atau berdiri di salah satu sisi ruangan. Mengubah-ubah posisi memberi tanda pada kelompok dan membantu anda tetap memegang kontrol. Selama pertemuan berlangsung, catat poin-poin penting dan keputusan yang diambil pada flip chart / kertas pleno, serta membuat rangkuman isu-isu yang disepakati dan konfirmasikan untuk menunjukkan kemajuan dan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Harus diingat dalam setiap pertemuan, tentukan norma atau aturan main. 

 Seorang fasilitator yang profesional juga harus memahami teknik-teknik dalam memfasilitasi sebuah diskusi. Ada 10 (sepuluh) teknik fasilitasi diskusi, meliputi : Paraphrasing(1), untuk membantu pembicara menilai apakah ucapannya ditangkap atau tidak oleh orang lain. Contoh : ” kedengarannya anda tadi mengatakan bahwa ……”  atau ” Saya memahami yang dikatakan lebih kurang…….”.

 Mirorring(2), untuk menangkap apa yang dikatakan orang lain persis yang diucapkan dengan mengulang kembali setiap kata yang diucapkan. Kadang-kadang dibutuhkan untuk meyakinkan orang-orang tertentu bahwa mereka betul-betul didengarkan.

 Teknik selanjutnya adalah Stacking(3), adalah proses membantu orang bergiliran berbicara ketika beberapa orang ingin berbicara bersamaan. Drawing Out(4), adalah proses menggali lebih jauh dengan cara mendukung orang supaya menjeleaskan lebih lanjut ide atau gagasannya. Contoh : ” Bisa jelaskan lebih lanjut?” atau “Apa yang anda maksud dengan…..?”

 Encouraging(5), adalah teknik dalam fasilitasi diskusi yang merupakan seni memberikan ruang bagi setiap peserta untuk berpartisipasi tanpa paksaan. Mendorong dalam hal ini terutama membantu pada tahap-tahap awal diskusi, pada waktu para peserta masih warming- up. Beberapa contoh teknik encouraging: ” Siapa lagi yang punya gagasan?” atau “Mungkin ada yang punya cerita menarik tentang masalah ini?” bisa juga seperti ini : “Kita sudah mendengar pendapat bapak-bapak, mari kita dengarkan pendapat para ibu.”

  Making Space(6), merupakan teknik fasilitasi diskusi yang seolah-olah ingin mengatakan kepada peserta yang pendiam bahwa : “Tidak apa-apa kalau anda tidak ingin bicara sekarang. Tetapi kalau anda ingin bicara, sekarang saya berikan kesempatan.” Setiap pertemuan kelompok akan ada peserta yang banyak bicara dan ada pula yang jarang berbicara. Perhatikan peserta yang pendiam, perhatikan gerak-gerik tubuh atau ekspresi muka mereka yang mungkin menunjukkan bahwa mereka ingin bicara. Undang mereka berbicara. Misalnya : “Apakah ada gagasan yang ingin anda ungkapkan?” atau ” Ada yang ingin ditambahkan?”. Kalau mereka menolak, jangan memaksa dan teruskan proses.

 Gathering (7), merupakan teknik mengumpulkan gagasan, bukan membahasnya. Mengumpulkan adalah ketrampilan yang memadukan antara mirorring dan paraphrasing ditambah dengan gerakan-gerakan fisik. Ketrampilan mendengar dan memberikan pengakuan pada pendapat atau gagasan orang dapat mengurangi kecenderungan mereka untuk membela gagasannya. Mengumpulkan gagasan dengan efektif dimulai dengan penjelasan singkat tentang tugas yang akan dikerjakan. Misalnya : “Dalam 10 menit mendatang, berikan tanggapan pada usulan ini dengan menyebutkan kelebihan dan kekurangannya!”

Tracking(8), terkadang beberapa pokok-pokok pikiran muncul bersamaan dalam sebuah diskusi. Misalnya, rencana pembangunan sebuah gedung. Ada yang bicara lokasi, ada yang bicara biaya dan ada yang bicara desain. Dalam situasi ini, mereka perlu dibantu untuk mengikuti semua topik yang sedang dibicarakan. Caranya bagaimana? Fasilitator membuat ringkasan pembicaraan, kemudian menyebutkan setiap isu yang muncul dan meminta pendapat peserta, apa isu yang disebutkan sesuai atau tidak.

Balancing(9), diskusi seringkali mengikuti pembicaraan orang pertama. Dengan teknik balancing, fasilitator membantu menyeimbangkan diskusi dengan cara memancing pandangan-pandangan lain yang tidak terungkap. Contoh : “Oke, sekarang kita sudah mendengar pendapat tiga orang. Apakah ada yang memiliki pendapat lain?” atau “Apakah ada yang memiliki pendapat lain?”.

Teknik fasilitasi diskusi yang terakhir adalah Intentional Silence (10), teknik ini dibutuhkan untuk memberikan kesempatan memikirkan apa yang ingin dikatakan; memberikan kesempatan peserta lain berfikir lebih dalam. Caranya bagaimana? Gunakan kontak mata dan bahasa tubuh; fokuskan perhatian pada pembicara. Jangan katakan apa-apa, tidak juga “hmmm…” maupun “ya….” Tidak juga mengangguk ataupun menggelengkan kepala. Tetap rileks & perhatikan pembicaraan. Fasilitator dapat mengatakan, “Mari kita diam sejenak untuk mencoba memahami arti diskusi ini.”

Adalah tanggung jawab fasiltator itu sendiri untuk mewakili dirinya sendiri secara adil, terbuka, menerima kritikan dari peserta, dan untuk mempertimbangkan merubah tujuan fasilitator guna memenuhi tujuan peserta. Adalah hak peserta untuk meminta pertanggungjawaban fasilitator atas apa yang diperbuat oleh fasilitator bersama dengan mereka.

Dengan memahami ketrampilan fasilitasi ini, semoga semua kita bisa menjadi fasilitator yang handal kapan saja dan dimana saja.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.